Pidato bahasa arab tentang ibu. Ibu adalah manusia mulia yang memiliki banyak jasa bagi seorang anak, dialah yang melahirkan, menyayangi, membesarkan dan mengasuh seorang manusia sampai ia besar dan dewasa.

Kewajiban setiap insan untuk berbakti kepada kedua orang tuanya, apalagi ibunya yang mempunyai begitu banyak jasa dan utang budi atas setiap anak.
Topik pidato bahasa arab tentang ibu akan kami bawakan untuk anda semua pengunjung blog bahasa arab yang budiman semuanya, jadi silahkan anda simak baik-baik dan dipelajari siapa tahu bermanfaat buat anda saat diminta pidato dengan menggunakan bahasa arab.
Baca Juga :
Baca Juga :
Kegiatan Sehari-hari Dalam Bahasa Arab dan Artinya
30 Kosakata Bahasa Arab Tentang Cinta Puisi Cinta Dan Artinya
30 Kosakata Bahasa Arab Tentang Cinta Puisi Cinta Dan Artinya
Teks pidato bahasa arab tentang tema ibu dan jasa-jasa ibu ini sudah kami lengkapi dengan cara baca dan artinya.
الْبِرُّ
بِالْأُمِّ
-عِبَادَ
اللَّهِ- مَفْخَرَةُ
الرِّجَالِ،
وَشِيمَةُ
الشُّرَفَاءِ،
وَقَبْلَ
ذَلِكَ
كُلِّهِ:
هُوَ خُلُقٌ
مِنْ خُلُقِ
الْأَنْبِيَاءِ؛
قَالَ تَعَالَى
عَنْ
يَحْيَى
-عَلَيْهِ
السَّلَامُ
"-: وَبَرًّا
بِوَالِدَيْهِ
وَلَمْ
يَكُنْ جَبَّارًا
عَصِيًّا
[مريم: 14]
وَقَالَ
عِيسَى -عَلَيْهِ
السَّلَامُ-:
وَبَرًّا
بِوَالِدَتِي
وَلَمْ
يَجْعَلْنِي
جَبَّارًا
شَقِيًّا
[مريم: 32].
Al-birru bil ummi - ibadalloh - mafkharatur
rijal, wa syimatus syurafa’i, wa qabla dzalika kullihi : huwa khuluqun min
khuluqil anbiya’, qola ta’ala an Yahya - alaihis salaam - : wa barram bi
walidayhi wa lam yakun jabbaran ashiyya ( QS Maryam : 14 ), wa qola Isa -
alaihis salaam - : Wa barram bi waalidati walam yaz’alni jabbaran syaqiyya (Q
S Maryam 32 ).
Berbakti
kepada ibu - wahai hamba Allah - merupakan kebanggan laki-laki dan merupakan
sifat orang-orang yang mulia, bahkan berbakti kepada ibu merupakan salah satu
akhlak para nabi, Allah berfirman tentang nabi Yahya : “Dan aku diperintah
untuk berbakti kepada ibu bapakku dan aku tidak dijadikan manusia yang
sombong dan bermaksiat. (QS : Maryam : 14). Dan nabi Isa -alaihis salam-
berkata : Dan aku diperintah untuk berbakti kepada ibundaku dan Allah tidak
menjadikanku orang yang sombong dan celaka. (QS : Maryam : 32).
الْبِرُّ
بِالْأُمِّ
يَتَأَكَّدُ
يَوْمَ يَتَأَكَّدُ
إِذَا
تَقَضَّى
شَبَابُهَا،
وَعَلَا
مَشِيبُهَا،
وَرَقَّ
عَظْمُهَا،
وَاحْدَوْدَبَ
ظَهْرُهَا،
وَارْتَعَشَتْ
أَطْرَافُهَا،
وَزَارَتْهَا
أَسْقَامُهَا،
فِي هَذِهِ الْحَالِ
مِنَ
الْعُمُرِ
لَا
تَنْتَظِرُ
صَاحِبَةُ
الْمَعْرُوفِ
وَالْجَمِيلِ
مِنْ وَلَدِهَا
إِلَّا قَلْبًا
رَحِيمًا،
وَلِسَانًا
رَقِيقًا،
وَيَدًا
حَانِيَةً.
Al-birru bil ummi yata’akkadu yauma yata’akkadu
idza taqassa syababuha, wa alaa masyibuha, wa raqqa adhmuha, wah daudaba
dzahruha, war ta’asyat athrafuha, wa zaaratha asqomuha, fi hadzihil hal minal
umri la tantadziru sahibatul ma’ruuf wal jamiil min waladiha illa qalban
rahiman, wa lisanan raqiqan, wa yadan haniyatan.
Berbakti
kepada ibu sangat ditekankan saat sang ibu sudah tua dan ubannya sudah mulai
muncul, tulangnya sudah mulai lemah, punggungnya sudah mulai lemas, anggota
badannya sudah menua, penyakit sudah mulai menghinggapinya, pada umur seperti
ini sang ibu tak menunggu kecuali hati yang pengasih, lisan yang lembut dan
tangan yang pengasih dari sang anak.
فَطُوبَى
لِمَنْ
أَحْسَنَ
إِلَى
أُمِّهِ فِي
كِبَرِهَا!
طُوبَى
لِمَنْ
شَمَّرَ
عَنْ سَاعِدِ
الْجِدِّ
فِي
رِضَاهَا؛
فَلَمْ تَخْرُجْ
مِنَ
الدُّنْيَا
إِلَّا
وَهِيَ عَنْهُ
رَاضِيَةٌ
مَرْضِيَّةٌ.
يَا
أَيُّهَا الْبَارُّ
بِأُمِّهِ
-وَكُلُّنَا
نَطْمَعُ أَنْ
نَكُونَ
ذَاكَ
الرَّجُلَ-:
تَمَثَّلْ
قَوْلَ
الْمَوْلَى
-جَلَّ
جَلَالُهُ: ﴿
وَاخْفِضْ
لَهُمَا جَنَاحَ
الذُّلِّ
مِنَ
الرَّحْمَةِ
﴾ [الإسراء: 24]
Fa tuba liman ahsana ila ummihi fi kibariha!
tuba liman syammara an sa’idil jiddi fi ridhaha, falam takhruj minad dunya
ill wa hiya anhu radiatun mardiyyatun, ya ayyuhal baarru bi ummihi - wa
kulluna nathma’u an nakuna dzakar rajulu - : tamatssal qaulal maula - jalla
jalaluhu -: “wakhfid lahuma janahadz dzulli minar rahmah.”
Maka
beruntunglah bagi mereka yang berbuat baik dan berbakti kepada ibunya saat
sang ibu sudah menua, beruntunglah bagi anak yang berusaha sekuat tenaga
meraih keridhaan sang ibu, sehingga tidaklah sang ibu meninggal dunia
melainkan ia ridha kepada anaknya, wahai orang yang berbakti kepada ibunya -
dan semua kita berharap menjadi anak yang berbakti kepada ibunya - engkau
harus senantiasa mengingat firman Allah : “Dan rendah dirilah di hadapan
mereka berdua ( ibu bapak ) karena kasih sayang.”
تَخَلَّقْ
بِالذُّلِّ
بَيْنَ
يَدَيْهَا بِقَوْلِكَ
وَفِعْلِكَ،
لَا تناديها
بِاسْمِهَا؛
بَلْ
نَادِهَا
بِلَفْظِ
الْأُمِّ؛
فَهُوَ
أَحَبُّ
إِلَى
قَلْبِهَا،
لَا
تَجْلِسْ
قَبْلَهَا،
وَلَا
تَمْشِ أَمَامَهَا،
قَابِلْهَا
بِوَجْهٍ
طَلْقٍ، وَابْتِسَامَةٍ
وَبَشَاشَةٍ.
Takhallaq bi zzulli baina yadaiha bi qaulika wa
fi’lika, la tunadiha bis miha, bal naadiha bilafdzil ummi, fa huwa ahabbu ila
qolbiha, la tajlis qoblaha, wa la tamsyi amamaha, qabilha bi wajhin talqin,
wab tisamatin wa basyasyatin.
Bersikaplah
rendah hati di depan sang bunda dengan ucapan dan perbuatanmu, jangan kau
panggil ibumu dengan menyebut nama aslinya, akan tetapi panggillah ia dengan
panggilan : ummi (ibundaku), panggilan itu jauh lebih ia cintai, jangan
berjalan di depannya, bertemulah dengannya selalu dengan wajah yang senyum,
hadirkan senyuman dan kegembiraan.
تَشَرَّفْ
بِخِدْمَتِهَا،
وَتَحَسَّسْ
حَاجَاتِهَا،
إِنْ
طَلَبْتَ
فَبَادِرْ
أَمْرَهَا،
وَإِنْ
سَقِمَتْ
فَقُمْ
عِنْدَ
رَأْسِهَا،
أَبْهِجْ
خَاطِرَهَا
بِكَثْرَةِ
الدُّعَاءِ
لَهَا، لَا
تَفْتَأُ
أَنْ تُدْخِلَ
السُّرُورَ
عَلَى
قَلْبِهَا؛
قَدِّمْ لَهَا
الْهَدِيَّةَ،
وَزُفَّ
إِلَيْهَا
الْبَشَائِرَ،
وإن كنت
بعيداً عنها
أكثر من
الاتصال بها
وأبلغها بشوقك
إلى لقياها،
ولا ترفع
صوتك عليها
وأنت تخاطبها.
Tasyarraf bi khidmatiha, wa tahassas hajaatiha,
in tulibta fa baadir amraha, wa in saqimat fa qum inda ra’siha, abhij
khatiraha bi katsratid du’ai laha, la tafta’ an tudkhilas surura ala qolbiha,
qaddim lahal hadiyyah, wa zuffa ilaihal basya’ir, wa in kunta ba’idan anha
aktsir minal ittisal biha wa abligha bi syauqika ila luqyaha, wa la tarfa’
sautaka alaiha wa anta tukhatibuha.
Berbanggalah
saat engkau bisa memenuhi kebutuhannya, cari tahu apa kebutuhannya, jika ia
meminta sesuatu maka segeralah memnuhi permintaannya itu, apabila ia sakit
maka segeralah berada di dekat kepalanya, bahagiakan perasaannya dengan
memperbanyak doa untuknya, jangan bosan untuk membahagiakannya, berikan dia
hadiah, kasi dia kabar gembira, jika engkau jauh darinya maka
sering-seringlah menelponnya dan sampaikan kerinduanmu kepadanya dan jangan
sekali- kali engkau mengangkat suara saat berbicara dengannya.
أبو
هريرة نادته
أمه يوماً: يا
أبا هريرة،
فقال بصوت
عالٍ من غير
قصد: لبيك، فتذكر
أن صوته أرفع
من صوت أمه
فقال أستغفر
الله، رفعت
صوتي على
أمي، فذهب
إلى السوق
واشترى
عبدين
وأعتقهما
كفارة لذلك،
هؤلاء هم
السلف
الصالح
عرفوا معاني
البر، فبروا
آباءهم، إنها
الأم
الغالية:
Abu Hurairah naadathu ummuhu yauman : ya aba
hurairah, fa qola bisautin aalin min gairi qasdin, fa tadzakkara anna sautahu
arfa’ min sauti ummihi, fa qola : astagfirulloh, rafa’tu sauti ala ummi, fa
dzahaba ilas suqi wasy tara abdaini wa a’taqahuma kaffaratan li dzalika, haula’i
humus salafus salih : arafu ma’aniyal birri, fa barru aba’ahum innahal ummul
ghaliyah.
Pernah
Abu Hurairah dipanggil oleh ibunya seraya memanggil : wahai Abu Hurairah,
lalu Abu Hurairah menjawab dengan suara agak lantang tanpa disengaja, lalu
iapun mengingat bahwa suara yang ia keluarkan untuk menjawab panggilan sang
ibu cukup lantang, lantas ia berkata : astagfirullah aku telah mengangkat
suara di hadapan ibuku. Maka iapun pergi ke pasar lalu memberi dua budak dan
memerdekakan keduanya sebagai kaffarah (penghapus dosa) untuk kesalahan yang
ia lakukan (berupa mengangkat suara kepada sang ibu).
Mereka
itulah fara penahulu kita yang baik : mereka mengetahui akan makna berbakti
kepada kedua orang tua, maka merekapun berbakti kepada orang tua mereka,
begitu berharganya ibu kita.
|
Demikian sahabat semua tentang pidato bahasa arab tentang ibu yang bisa kami sampaikan pada kesempatan ini.